Laman

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label fondasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fondasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

SEDIJATMO (Penemu Konstruksi Fondasi Cakar Ayam)

Inspirasi datang bersama angin dan debur ombak. Saat itu, suatu hari di tahun 1961, Sedijatmo sedang piknik bersama keluarga di Pantai Cilincing, Jakarta Utara. Ketika itu, secara tak sengaja, pandangannya menancap ke batang pohon nyiur yang meliuk dan melambai tertiup angin. Muncul pertanyaan di benak Direktur Dinas Perencanaan dan Pembangunan - Perusahaan Listrik Negara (PLN) ini. “Mengapa nyiur bisa berdiri kokoh di tanah lunak meski tertiup angin dan deburan ombak?” Padahal, tubuhnya yang menjulang hanya ditopang akar serabut yang tak terlalu dalam.

Kebetulan, Datmo, begitu nama panggilan insinyur itu, tengah memimpin projek besar pembangunan tiang listrik tegangan tinggi di daerah Ancol, kawasan pantai bertanah rawa yang lembek. Lapisan tanah keras di sana bisa mencapai kedalaman 25 meter.

Inspirasi pohon nyiur itu mendorong Datmo, yang ketika itu berusia 52 tahun, membuat rancangan fondasi yang cocok untuk tanah tak stabil seperti daerah rawa. Jadilah fondasi “berserabut” pipa beton yang menyangga kontruksi tower listrik tegangan tinggi. Dengan cara konvensional,tower itu mestinya dibangun dengan fondasi bertiang pancang panjang yang menancap dalam sampai ke lapisan tanah keras.

Secara fisik, bentuk fondasi ala Sedijatmo ini mirip dengan fondasi tiang pancang. Sebuah pelat beton menjadi landasan berdirinya tower. Di bawah pelat yang tebalnya 10-12 sentimeter itu mencuat pipa-pipa beton dengan diameter 50 sentimeter yang satu sama lain berjarak 1-1,5 meter. Hanya saja, pipa ini tak harus memanjang seperti tiang pancang yang mencapai lapisan tanah keras.

Kaki-kaki itu menggantung hanya 3,5 meter panjangnya. Meski tak sampai mencengkeram tanah keras, kaki-kaki “cakar ayam” itu sudah cukup kuat sebagai stabilisator konstruksi yang sanggup menahan tekanan dari atas dan samping. Karena bentuknya mirip kaki ayam, jadilah fondasi ini dinamakan “Fondasi Cakar Ayam”.

Meski secara fisik mirip, cara kerja Fondasi Cakar Ayam berbeda dengan jenis fondasi konvensional. Fondasi ini sangat mengandalkan tekanan pasif tanah dan gaya lateral yang diterima pelat. Itu sebabnya, kedalaman fondasi ini tidak perlu menembus tanah keras. Bandingkan dengan fondasi tiang pancang pada umumnya yang mengandalkan daya dukung tanah keras untuk kekuatannya. Dibandingkan dengan fondasi friction pile pun, Fondasi Cakar Ayam masih lebih efisien, karena tak harus dilengkapi kaki-kaki panjang.

Sukses pemancangan Fondasi Cakar Ayam di Ancol itu kemudian diikuti keberhasilan tower-tower lain. Pemakaiannya meluas, tidak terbatas pada konstruksi menara. Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Polonia Medan juga memanfaatkan kuatnya cengkeraman cakar-cakar beton temuan pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 24 Oktober 1909 ini. Hasil pengujian di Polonia menunjukkan bahwa Fondasi Cakar Ayam mampu mereduksi hingga 75% tekanan pada tanah di bawah landasan pacu. Konstruksi cakar ayam ini telah menunjukkan keandalannya, bahkan setelah diuji puluhan tahun.

Yang paling monumental, ya Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Dari 1.800 hektare (18 km persegi) pengerasan lahan di sana, 120 hektare diantaranya memanfaatkan teknologi cakar ayam. Pemakaiannya mulai dari apron (tempat parkir pesawat terbang), taxi way, hingga landasan pacu di bandara yang tata bangunannya mendapat penghargaan arsitektur lansekap Aga Khan pada 1995 itu.

Fondasi Cakar Ayam mencatat sejumlah kelebihan dibandingkan fondasi jenis lain. Karena fondasi ini letaknya tidak berada jauh dari permukaan tanah, pengerjaannya jauh lebih sederhana ketimbang jika harus memancang atau mengebor tanah.Biaya yang dihemat bisa sampai 30%, karena pengerjaannya lebih cepat dan material yang diperlukan lebih sedikit.

Fondasi Cakar Ayam temuan Sedijatmo telah memperoleh paten dari berbagai negara. Selain Indonesia, fondasi ini juga mendapat paten dari Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, Belgia, Belanda, Denmark dan Jerman. Fondasi Cakar Ayam, sebagai sebuah teknik, telah membuktikan mampu memberikan solusi pada zamannya.

Fondasi Cakar Ayam bukan satu-satunya temuan Sedijatmo. Ayah lima anak ini juga pemegang paten pipa pesat dan penemu pompa air curug. Bahkan pada 1971, ketika usianya 62 tahun, alumnus Technische Hoge School (THS) --sekarang ITB—ini masih berkarya. Ketika itu, ia memperkenalkan teknik “Bahari Ontoseno”, sebuah sistem pembuatan jembatan di sungai yang lebar seperti di daerah Kalimantan.

Atas segala karyanya itu, Sedijatmo memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra Kelas I dari Pemerintah Republik Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama jalan tol di Bandara Soekarno-Hatta hingga kini. (Amalia K. Mala, Wahyu Aji) --- Sumber Majalah Gatra Ed. Khusus, Agustus 2004.

Penemuan2 Penting Indonesia di Bidang Teknologi & Konstruksi

  1. PT. PAL sukses membuat salah satu kapal terbaik di dunia “Star 50″ berbobot 50,000 ton. Salah satu Negara yang memesan kapal ini adalah Singapura.
  2. Pabrik/manufaktur Mattel (boneka Barbie USA) hanya ada dua di dunia. Pabrik pertama berada di China dan lainnya di Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Brand internasional yang amat prestisius, Gucci, menggunakan kain tenun asli Indonesia sebagai bahan bakunya.
  3. Tahukah Anda, Airbridge –tangga belalai menuju pintu pesawat yang ngetrend di bandara-bandara dunia kali pertama dibuat oleh PT Bukaka, Indonesia.
  4. Mobil prestisius, Mercedes Benz, menggunakan knalpot buatan Indonesia, yang pengerjaannya sepenuhnya dilakukan di Purbalingga, Jawa Tengah.
  5. Menara Kuala Lumpur ternyata di dirancang oleh putra Indonesia, Ir. Achmad Murdijat alumni ITB
  6. Stadion Gelora Bung Karno merupakan stadion terbesar ke-2 di Asia.
  7. Sedijatmo adalah penemu konstruksi fondasi cakar ayam
  8. Evvy Kartini - Penemu Penghantar Listrik Berbahan Gelas
  9. Herman Johannes - Penemu Tungku Berbahan Bakar Briket Arang Kayu dan Dedaunan
  10. M. Djoko Srihono - Penemu Penjernih Air Limbah
  11. Minto - Penemu Kompor dan Pengering Hasil Tani dengan Tenaga Matahari
  12. Rahmiana Zein - Penemu Teknik Pemisahan Cairan dalam Kecepatan Tinggi
  13. Saverinus Nurak - Penemu Mesin Pompa Tangan Berkekuatan Tinggi
  14. Sutjipto & Ryantori - Penemu Konstruksi Fondasi Sarang Laba-laba
  15. Sutrisno - Penemu Alat Perangkap Lalat Buah
  16. Tjokorda Raka Sukawati - Penemu Landasan Putar Bebas Hambatan Sosrobahu
  17. Windu Hernowo - Penemu Penghemat Bahan Bakar Mesin
  18. Yudi Utomo Imardjoko - Penemu Kontainer Limbah Nuklir
  19. Zahlul Badaruddin - Penemu Zahlul Integrated Unit (Desain Sistem Efisien untuk Produksi Obat/Kimia)
  20. Adi Rahman Adiwoso - Penemu Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit
  21. Alexander Kawilarang - Penemu Kapal Ikan Bersirip
  22. Andrias Wiji Setio Pamuji - Penemu Reaktor Biogas
  23. Arief Mulyana Djumra - Penemu Pemacu Produktifitas dan Kualitas Udang dan Ikan
  24. Aryadi Suwono & Tim Peneliti ITB - Penemu Bahan Pendingin Baru yang Lebih Hemat Energi
  25. Bacharuddin Jusuf Habibie - Penemu Teori, Faktor dan Metode Habibie (Teknologi Pesawat Terbang)
  26. Budi Noviantoro - Penemu Klip Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi
  27. Dani Hilman Natawijaya - Penemu Indikator Alam (Terumbu Karang) terhadap Siklus Gempa
  28. Djuanda Suraatmadja - Penemu Beton Polimer yang Ramah Lingkungan